Baca-Berita.com

Informasi Berita Terbaru

6 Oktober 2022

baca-berita.com – Penyu adalah kura-kura laut yang ditemukan di semua samudera di dunia. Penyu merupakan salah satu hewan purba yang masih hidup sampai sekarang.

Para ilmuwan dari Arizona State University mengatakan dalam sebuah studi baru bahwa lebih dari 1,1 juta penyu telah dibunuh secara ilegal.

Tak hanya itu saja, dalam beberapa kasus penyu-penyu diperdagangkan dalam periode 30 tahun dari 1990 hingga 2020. Studi ini telah dipublikasikan di Global Change Biology.

Dikatakan bahwa dalam dekade terakhir, hingga 44.000 penyu dieksploitasi setiap tahun di 65 negara atau wilayah dan 44 dari 58 populasi penyu utama di seluruh dunia.

Dalam penelitian itu juga disebutkan bahwa praktik Ini telah terjadi terlepas dari fakta bahwa ada undang-undang yang melarang penangkapan dan penggunaannya.

Jesse Senko, asisten profesor peneliti di Arizona State University (ASU) dan salah satu penulis utama studi tersebut mengungkap hal tak terduga.

“Angkanya sangat tinggi dan hampir pasti kurang terwakili oleh beberapa urutan besarnya karena hanya sangat sulit untuk menilai semua jenis aktivitas ilegal,” ujarnya dikutip dari The Guardian.

Menurut PBB, penyu disembelih terutama untuk diambil daging dan cangkangnya, dan bagian-bagiannya digunakan untuk membuat perhiasan, artefak, dan obat-obatan tradisional.

Menurut The Guardian, perdagangan satwa liar ilegal, yang mencakup perburuan dan perdagangan penyu, adalah bisnis tahunan yang bernilai hingga $23 miliar (20 miliar pound), atau sekitar Rp341 Triliun.

Para ilmuwan terkejut menemukan bahwa meskipun jumlah penyu yang dijarah tinggi, eksploitasi ilegal penyu yang dilaporkan telah menurun sekitar 28 persen selama 10 tahun terakhir.

Mereka awalnya mengantisipasi peningkatan keseluruhan dalam perburuan liar yang dilaporkan.

Kayla Burgher, asisten penulis pertama studi dan seorang mahasiswa doktoral dalam program ilmu kehidupan lingkungan ASU di School of Life Sciences, mengungkapkan penurunan tersebut.

“Penurunan selama dekade terakhir dapat disebabkan oleh undang-undang perlindungan yang meningkat dan upaya konservasi yang ditingkatkan, ditambah dengan peningkatan kesadaran akan masalah atau perubahan norma dan tradisi lokal,” ujarnya.

Para ilmuwan juga menemukan bahwa sebagian besar eksploitasi ilegal yang dilaporkan selama dekade sebelumnya terjadi pada populasi penyu yang besar, stabil, dan bervariasi secara genetik.***

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website pikiran-rakyat.com. Situs https://baca-berita.com adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://baca-berita.com tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”

  • Baca Artikel Menarik Lainnya dari Baca-Berita.com di Google News