baca-berita.com – Nama Elon Musk memang lebih dikenal sebagai CEO dari perusahaan mobil listrik Tesla .

Namun tak hanya soal otomotif, pengusaha dari Amerika Serikat itu tertarik membeli platform Twitter .

Kendati demikian, keputusan Elon Musk membeli Twitter ini sempat ragu dikarenakan faktor keamanan yang kurang.

Salah satunya banyaknya cuitan atau unggahan dari bot, maupun akun-akun palsu pada Twitter , sehingga Elon Musk mengurungkan niat untuk membeli Twitter .

Elon Musk pada Jumat, 9 September 2022 kemarin menambahkan pembayaran pesangon yang dilakukan oleh Twitter ke pelapor ke daftar.

Elon Musk beralasan dia merasa berhak untuk meninggalkan kesepakatan $44 miliar atau sekitar Rp652 Triliun untuk membeli platform media sosial itu.

Surat pemutusan hubungan kerja yang dikirim ke Twitter menuduh perusahaan tersebut tidak memberi tahu dia tentang pembayaran pesangon jutaan dolar yang dilakukan pada bulan Juni kepada kepala keamanan Peiter Zatko.

Lebih lanjut Elon Musk yang kemudian mengajukan pengaduan pelapor yang mengkritik praktik keamanan Twitter , menurut salinan surat yang diajukan ke Securities and Exchange Commission.

Pengacara Musk berpendapat bahwa kegagalan untuk meminta persetujuannya sebelum membayar Zatko memberikan dasar hukum lain untuk memutuskan kesepakatan merger dengan Twitter yang ia tandatangani pada April 2022.

“Teman saya tampaknya berdebat bahwa Twitter seharusnya memberi tahu Musk bahwa ada mantan karyawan yang tidak puas yang membuat berbagai tuduhan yang telah ditanyakan dan ternyata tidak berdasar,” kata pengacara Twitter William Savitt awal pekan ini.

Musk, orang terkaya di dunia, mengatakan dalam surat penghentian aslinya bahwa dia membatalkan kesepakatan karena dia disesatkan oleh Twitter mengenai jumlah akun bot di platformnya, tuduhan yang ditolak oleh perusahaan.

Dalam putusan campuran awal pekan ini, Kathaleen McCormick, rektor pengadilan Delaware yang mengawasi kasus tersebut, mengatakan Musk dapat menambahkan pengungkapan whistleblowing dari Zatko yang muncul pada bulan Agustus 2022.

Tapi dia menolak permintaannya untuk mendorong kembali litigasi, mengatakan memperpanjang gugatan dan akan berisiko lebih lanjut merugikan Twitter terlalu besar untuk dibenarkan.

Musk telah terjebak dalam pertempuran hukum sengit dengan Twitter sejak mengumumkan pada bulan Juli bahwa ia menarik steker pada pembelian perusahaan setelah pacaran yang kompleks, bergejolak, selama berbulan-bulan.

Sidang lima hari itu akan dilanjutkan mulai 17 Oktober di pengadilan Delaware.***

”Artikel ini bersumber sekaligus hak milik dari website pikiran-rakyat.com. Situs https://baca-berita.com adalah media online yang mengumpulkan informasi dari berbagai sumber terpercaya dan menyajikannya dalam satu portal berita online (website aggregator berita). Seluruh informasi yang ditampilkan adalah tanggung jawab penulis (sumber), situs https://baca-berita.com tidak mengubah sedikitpun informasi dari sumber.”